🐗 Rumah Sakit Yang Bisa Dsa

RumahSakit St. Elisabeth Bekasi merupakan sebuah Rumah Sakit yang berlokasi di Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat, Indonesia. Saat ini, dokter-dokter yang melakukan praktek di Rumah Sakit St. Elisabeth Bekasi diantaranya adalah dr. Harry Damay, Sp.PD, dan dr. Abdul Haris Thayeb, Sp.A. Adapun beberapa layanan kesehatan yang dapat Anda temukan di Rumah Sakit St. Elisabeth Bekasi adalah Anak Itusalah satu hak pasien yang harus dipenuhi rumah sakit, ujar Nico.Pelaporan KTD belum banyak dilakukan oleh rumah sakit di Indonesia. Angka kejadian yang sesungguhnya bisa lebih karena di Amerika saja, terjadi KTD, ujar Nico.Rendahnya frekuensi pelaporan ini Nico menengarai dipengaruhi katakutan paramedis tinggingya budaya Makananyang boleh diberikan dan makanan yang tidak boleh diberikan kepada orang sakit selama dirawat di rumah sakit akan dianggap sebagai patokan yang terbaik dalam pengaturan makan sehari-hari. Pandangan itu tumbuh karena makanan yang boleh atau yang tidak boleh diberikan berdasarkan anjuran dan di bawah pengawasan dokter (Moehyi, 1992). JAKARTAsuaramerdeka-jakarta.com-Seorang pasien di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, bernama Hanny Thercia Santoso (63) mengaku sangat terbantu setelah berobat dengan mantan Menteri Kesehatan, Prof Dr dr Terawan Agus Putranto, SpRad(K).. Hanny bercerita, waktu umur 22 dia dinyatakan terjangkit Leukimia. Setiap hari dirinya harus mengkonsumsi obat, mulai dari obat penahan CBUdOa. Digital Subtraction Angiography DSA awalnya adalah teknik yang dilakukan untuk menggambar pembuluh darah, dengan menyemprotkan zat kontras iodine agar bisa dideteksi oleh alat X-ray melalui film. DSA bisa diaplikasikan pada pembuluh jantung, kepala, kaki, perut, hati, dll. Penggunaan iodine dikarenakan cairan tersebut terlihat jelas pada X-ray, serta dapat dengan mudah diserap dan dikeluarkan oleh tubuh. DSA Lebih Nyaman Pada DSA konvensional, untuk menggambar pembuluh otak, cairan kontras disemprotkan melalui pembuluh leher sebagai pembuluh terdekat. Film yang digunakan pun berlapis-lapis. Kini dengan teknologi terkini dan sistem digital yang terkomputerisasi, DSA bisa mendeteksi abnormalitas pada pembuluh darah secara lebih jelas dan terukur, serta penggunaan cairan kontras seminimal mungkin. Kemajuan paling signifikan dibandingkan sistem konvensional, adalah penggunaan kateter selang kecil dengan diameter lebih kecil dari 2 mm melalui pembuluh kaki femoral. Selain lebih nyaman, prosedur yang dikenal sebagai Trans Femoral Cerebral Angiography TFCA ini juga lebih aman bagi pasien, karena pembuluh leher carotis memiliki sensitivitas yang vital bagi lancarnya darah dari dan menuju otak. Jadi dengan tindakan invasif seminimal mungkin, hasil yang dicapai pun lebih baik. Tujuan DSA Tujuan DSA ada dua, yaitu Diagnostik, yaitu untuk mendeteksi kelainan pembuluh darah, vaskularisasi tumor, dll. Pasien hanya perlu melakukan persiapan berupa puasa empat jam, pengecekan Hb dan leukosit, fungsi ginjal dan hati. Pasien dengan diabetes mellitus sebaiknya menghentikan pemakaian obat sehari sebelum tindakan DSA. Terapeutik, yaitu untuk tindakan pengobatan abnormalitas pada pembuluh darah, dengan cara memasukkan obat, alat, maupun implan pada pembuluh yang dituju. DSA juga digunakan sebagai terapi pelengkap sebelum menjalani operasi. Tidak tertutup kemungkinan, pada saat menjalani DSA, pasien yang bertujuan diagnostik harus langsung menjalani tindakan terapeutik. Tindakan DSA pada sistem saraf manusia dikenal dengan istilah neurointervensi, dan menjadi teknik yang lebih banyak digunakan pada kasus aneurisma dan stroke, karena penggunaan obat menjadi lebih tepat sasaran. Pasien stroke iskemik yang dapat menjalani tindakan neurointervensi harus memenuhi beberapa kriteria neurointervensi, yaitu tidak berusia lebih dari 86 tahun, tidak boleh mengalami pendarahan, tekanan darah relatif normal, serta masih dalam periode emas, yakni kurang dari 8 jam setelah serangan terjadi. Pada penanganan stroke ini, fokusnya adalah apakah otak masih hidup atau tidak. Jika sel otak sudah rusak, aliran darah yang sudah dilancarkan pun tidak berguna lagi. Efek Samping Risiko tindakan DSA kini jauh lebih kecil dibandingkan dengan prosedur yang harus ditempuh sebelum teknologi ini berkembang, dimana pasien harus menjalani operasi vital, seperti pembukaan tengkorak, yang juga dapat mengakibatkan infeksi. Kini risiko yang ada hanyalah kemungkinan pergesekan pembuluh dengan kateter, atau robeknya pembuluh darah. DSA kini jauh lebih minim risiko. DSA di Indonesia Teknik DSA sebenarnya terlebih dahulu dimanfaatkan dalam cardiologi, dan baru belakangan ini berkembang menjadi salah satu teknik neurointervensi. Tidak banyak rumah sakit yang memiliki tenaga ahli di bidang neurointervensi, walaupun mempunyai alatnya. Eka Hospital merupakan salah satu dari sedikit rumah sakit yang memiliki alat sekaligus tenaga ahli di bidang neurointervensi, yaitu neuro vascular surgeon dan endo vascular surgeon, yang bahu membahu menangani tindakan kritis dalam neurointervensi. Índice1 Histórico da Residência Médica 2 Instituições participantes do processo Hospitais 3 O que preciso saber sobre o processo seletivo do SUS-BA 2023? Prova para especialidade Áreas Básicas/Acesso Prova para especialidades com Pré-requisito ou áreas de atuação4 O que preciso para ser aprovadoa na residência médica do SUS-BA? Cálculo da nota Programas de Especialidades de Áreas Básicas/Acesso Programas de Especialidades de pré-requisito ou áreas de atuação5 Quais são os assuntos mais cobrados na prova de residência do SUS-BA? Clínica Ginecologia e Medicina Preventiva e Social6 Cronograma SUS BA 20237 Edital de residência médica do SUS-BA 2023 vagas oferecidas 8 Vagas para especialidades de acesso Anestesiologia Cirurgia Clínica médica Genética Ginecologia e obstetrícia Infectologia Medicina de emergência Medicina de família e Medicina do Medicina intensiva Neurocirurgia Oftalmologia Ortopedia e Otorrinolaringologia Psiquiatria Radiologia e diagnóstico por Radioterapia9 Vagas para especialidades com Cirurgia de cabeça e Cirurgia do aparelho Cirurgia oncologica Cirurgia pediátrica Cirurgia Cirurgia Endocrinologia e Hematologia e Mastologia Nefrologia Oncologia Oncologia Urologia10 Vagas para especialidades de área de Angiologia e cirurgia Cardiologia Ecocardiografia vascular com Endocrinologia pediátrica Endoscopia Endoscopia Gastroenterologia Hematologia e hemoterapia Hemodinâmica e cardiologia Hepatologia Medicina intensiva pediátrica Neurologia pediátrica Pneumologia Psiquiatria da adolescência e da Ultrassonografia em ginecologia e Ano adicional em ortopedia 11 Como foi o último processo seletivo para residência médica no SUS-BA? Ranking das especialidades mais concorridas do Correção comentada da prova SUS-BA 2021/2212 O que esperar da residência médica do SUS-BA?13 Referência14 Posts relacionados Saiu o edital de residência médica do SUS-BA 2023. Acesse e saiba tudo sobre o processo seletivo e os assuntos mais cobrados! O SUS-BA é um processo seletivo unificado de residência médica, que envolve mais de 30 instituições localizadas em diversas cidades baianas, como Salvador, Feira de Santana, Juazeiro e Vitória da Conquista, entre outras. Histórico da instituição O processo de implantação do Sistema Único de Saúde SUS do Estado da Bahia se deu no período de 1986 a 2006 com o intuito de promover a formulação da política estadual de saúde, a gestão do Sistema Estadual de Saúde e a execução de ações e serviços para promoção, proteção e recuperação da saúde. Residência Médica Os interessados em fazer residência médica no estado da Bahia precisam passar pelo processo seletivo unificado que envolve várias instituições em diferentes cidades do estado. A seleção é credenciado pela Comissão Nacional de Residência Médica CNRM-MEC e executado sob a responsabilidade conjunta da Strix – Educação, Avaliação e Projetos Ltda. e da Comissão Estadual de Residência Médica da Bahia CEREM/BA. Instituições participantes do processo seletivo Centro de Diabetes e Endocrinologia da BahiaClínica Senhor do BonfimComplexo Hospitalar Universitário Prof. Edgard Santos – UFBAEscola Estadual de Saúde Pública – SESABFundação Bahiana de Cardiologia Hospitais Hospital de Olhos de Feira de SantanaAna NeryHospital da BahiaAristides Maltez – Liga Bahiana Contra o CâncerHospital da CidadeCalixto Midlej FilhoCouto MaiaHospital da Mulher – Fundação Hospitalar Feira de SantanaBase Luís Eduardo MagalhãesHospital do OesteClériston AndradeHospital do Subúrbio – Prodal SaúdeRoberto SantosHospital Estadual da CriançaErnesto Simões FilhoJuliano MoreiraManoel Novaes – Santa Casa de ItabunaManoel VictorinoMartagão GesteiraOtorrinos de Feira de SantanaRegional de JuazeiroHospital Regional de Santo Antônio de Jesus – IFFPortuguês da BahiaHospital Regional de Vitória da ConquistaSagrada FamíliaSecretaria Municipal de Saúde de SalvadorSanta IzabelInstituto Brasileiro de Oftalmologia e Prevenção da CegueiraSanto AntônioSecretaria Municipal de Saúde de Vitória da ConquistaSão RafaelInstituto de Perinatologia da BahiaSão Vicente de Paulo O que preciso saber sobre o processo seletivo do SUS-BA 2023? O processo seletivo do SUS-BA será realizado através de uma prova mista, com questões objetivas e discursivas de respostas curtas. A avaliação será aplicada nas cidades de Salvador, Juazeiro, Barreiras, Vitória da Conquista e Teixeira de Freitas, no estado da Bahia, em formato presencial, no dia 15/11/2022. As provas são estruturadas da seguinte forma Prova para especialidade Áreas Básicas/Acesso Direto Uma prova – de caráter genérico, classificatória e eliminatória – composta por 25 situações-Problema com três questões cada, sendo 15 situações-problema com questões objetivas de múltipla escolha e 10 situações-problema com questões objetivas de resposta curta. Esta prova tratará de conteúdos de Clínica Médica, Cirurgia Geral,Ginecologia e Obstetrícia, Pediatria e Medicina Preventiva e Social Saúde Coletiva e Medicina Geral de Família e Comunidade. Para o cálculo da nota, será aplicado peso 1,5 à pontuação obtida nas questões Objetivas de resposta curta e peso 1 à pontuação obtida nas questões objetivas de múltipla escolha. Prova para especialidades com Pré-requisito ou áreas de atuação Uma prova de caráter específico, classificatória e eliminatória, composta por 15 situações-problema com três questões objetivas de múltipla escolha cada. Nesta prova, serão abordados os conteúdos das Especialidades que se constituem pré-requisitos do respectivo Programa. Cada situação-problema respondida corretamente valerá 1 um ponto, que será correspondente à soma das pontuações obtidas em cada uma das 3 três respectivas questões. O que preciso para ser aprovadoa na residência médica do SUS-BA? Após a correção das provas, ocorrerá o processamento das Notas dos candidatos, correspondente ao total de pontos obtido na prova e a eliminação dos candidatos que tenham obtido nota inferior a 1 um. Cálculo da nota final O Escore Global EG corresponde à nota final do candidato, e será calculada da seguinte forma Programas de Especialidades de Áreas Básicas/Acesso Direto Calculado aplicando-se peso 1 à pontuação obtida nas questões objetivas de múltipla escolha e aplicando-se peso 1,5 à pontuação obtida nas questões objetivas de respostas curtas, acrescido da bonificação de 10% do PROVAB ou PRMFC – não cumulativa, para aqueles que tiverem esse direito e o tenham solicitado na forma prevista neste Edital. EG = [Total de Pontos nas questões objetivas de múltipla escolha x 1,0 + Total de Pontos nas questões objetivas de resposta curta x 1,5] + Bonificação PROVAB/PRGMFC Programas de Especialidades de pré-requisito ou áreas de atuação O Escore Global será igual à pontuação obtida nas questões objetivas de múltipla escolha acrescido da bonificação de 10% do PROVAB ou PRMFC – não cumulativa, para aqueles que tiverem esse direito e o tenham solicitado. EG = Total de Pontos nas questões objetivas de múltipla escolha + Bonificação PROVAB/PRMFC Após o cálculo da nota final, os candidatos serão classificadospor ordem decrescente dos Escores Globais, conforme o Programa para o qual tenha realizado a sua inscrição. Em caso de empate, será utilizado para desempate o critério de maioridade computando-se dia/mês/ano/hora, tendo preferência na classificação o candidato mais velho. Para mandar bem na prova e garantir uma pontuação alta, é importante estudar de forma focada e dominar os assuntos mais cobrados. Quais são os assuntos mais cobrados na prova de residência do SUS-BA? Antes de qualquer coisa, lembre-se de ler atentamente o edital e ver as particularidades para especialidade desejada. Afinal, como dito anteriormente a estrutura é diferente para programas de acesso direto/área básica e com pré-requisito/área de atuação. Para te ajudar a direcionar seus estudos, reunimos os assuntos que sempre se fazem presentes nas questões da prova. Confira os assuntos por especialidade Clínica Médica O destaque de cobrança nos últimos anos tem sido valvulopatias – o diagnóstico e a tomada de condutas mais adequadas. Os candidatos também vão encarar questões de nefropatia, pneumonia, vasculites, HIV e intoxicações exógenas. Cirurgia O principal destaque de cobrança é ATLS atendimento ao politraumatizado e as condutas inicias. Também são cobrados entendimento em abdome agudo e quando é necessário uma abordagem cirúrgia, complicações do pós-operatório, hérnias, doença diverticular dos cólons e megacólon chagásico e oncologia. Ginecologia e Obstetrícia Os candidatos precisam dominar os conteúdos de parto. Além disso, é bom estudar também diagnóstico e tratamento de condições frequentes na gestação como doença hipertensiva, eclâmpsia e diabetes gestacional,Infecções sexualmente transmissíveis, vulvovaginite e cervicites. Pediatria O destaque são os conteúdos de neonatologia – afecções do período neonatal, principalmente as respiratórias, como a taquipneia transitória do recém-nascido e bronquiolite. Também é cobrado PALS e o atendimento à criança com PCR, atendimento inicial ao recém-nascido, doenças infecciosas, doenças hematológicas, imunização, resiliência e maus-tratos contra crianças e adolescente e aleitamento. O tópico principal aqui são os conteúdos de vigilância epidemiologia e causalidade em epidemiologia. Também é importante se preparar para responder sobre gestão e leis e diretrizes do Sistema Único de Saúde SUS e mortalidade principalmente referente ao preenchimento da declaração de óbito. Cronograma SUS BA 2023 O edital do SUS BA 2023 foi lançado no dia 26 de agosto de 2022. Confira as datas mais importantes Inscrições 27/08 a 26/09/22Taxa de inscrição R$724,80Solicitação de isenção 27/08 a 12/09/22Divulgação de inscrições homologadas e locais de prova 08/11/22Data da Prova 15/11/22Gabarito preliminar 17/11/22Interposição de recurso 17/11 e 18/11/22Divulgação do edital e cronograma de matrícula 16/01/23Divulgação das notas dos candidatos 23/01/23Classificação final e convocação p/ matrícula 07/02/23 Os interessados devem se inscrever através do site do Strix Educação. Edital de residência médica do SUS-BA 2023 vagas oferecidas Há vagas para programas de residência de especialidades de acesso direto, área básica, pré-requisito e área de atuação. Para o processo seletivo de 2023, o edital oferta mais de 850 vagas. Confira as vagas disponíveis por especialidade Vagas para especialidades de acesso direto Anestesiologia Cirurgia geral Clínica médica Dermatologia Genética médica Ginecologia e obstetrícia Infectologia Medicina de emergência Medicina de família e comunidade Medicina do trabalho Medicina intensiva Neurocirurgia Neurologia Oftalmologia Ortopedia e traumatologia Otorrinolaringologia Pediatria Psiquiatria Radiologia e diagnóstico por imagem Radioterapia Vagas para especialidades com pré-requisito Cardiologia Cirurgia de cabeça e pescoço Cirurgia do aparelho digestivo Cirurgia oncologica Cirurgia pediátrica Cirurgia plástica Cirurgia vascular Coloproctologia Endocrinologia e metabologia Endoscopia Gastroenterologia Geriatria Hematologia e hemoterapia Mastologia Nefrologia Nutrologia Oncologia clínica Oncologia pediátrica Pneumologia Reumatologia Urologia Vagas para especialidades de área de atuação Angiologia e cirurgia endovascular Cardiologia pediátrica Dor Ecocardiografia Ecocardiografia vascular com doppler Endocrinologia pediátrica Endoscopia digestiva Endoscopia ginecologica Gastroenterologia pediátrica Hematologia e hemoterapia pediátrica Hemodinâmica e cardiologia intervencionista Hepatologia Medicina intensiva pediátrica Neonatalogia Neurologia pediátrica Pneumologia pediátrica Psiquiatria da adolescência e da infância Ultrassonografia em ginecologia e obstetrícia Ano adicional em ortopedia Como foi o último processo seletivo para residência médica no SUS-BA? A prova do último processo seletivo 2021/22 aconteceu no dia 14/11/2021 presencialmente, no turno vespertino, na cidade de Salvador BA. O resultado final do SUS-BA foi disponibilizado no dia 8/02/2022. Ranking das especialidades mais concorridas do SUS-BA *dados com base na última seleção 2021/22. Correção comentada da prova SUS-BA 2021/22 A Sanar reuniu os professores Dr. Rodrigo Edelmuth, Dr. Vergilius Neto e Dr. Frederico Cantarino para corrigir e comentar a última prova. Assista a aula de correção O que esperar da residência médica do SUS-BA? O Processo Seletivo Unificado do SUS-BA é o maior do estado e oferece vagas nas melhores instituições e Programas de Residência Médica. Além de disponibilizar praticamente todas as especialidades em diversos centros de saúde, o SUS-BA é uma excelente opção pois torna o processo seletivo mais isonômico, reduz os custos para os candidatos e deixa o processo de preparo para a residência mais objetivo, focado em um único modelo de prova. Referência Edital do SUS-BASite do SESABPesquisa do repositório da UFBA Posts relacionados Enare 2022/23 o que é, etapas da seleção, cronograma, vagas e maisResidência Médica na UFES Universidade Federal do Espírito SantoComo será a concorrência da residência médica em 2022/23?Residência médica no Hospital Sírio-Libanês HSL - “Ya, aku sadar sih jadi kelinci percobaan,” kata Doni bukan nama sebenarnya. Keluarga besar Doni punya riwayat penyakit stroke dan darah tinggi. Ia langsung memutuskan menjalani terapi Intra Arterial Heparin Flushing IAHF alias “metode cuci otak” Terawan Agus Putranto—sekarang Menteri Kesehatan—saat kaki kirinya bengkak beberapa bulan lalu. Bagi Doni, terapi ini adalah upaya preventif untuk menghindari penyakit yang lebih parah. Itu sebabnya, ia tak keberatan merogoh kocek Rp50 juta untuk prosedur operasi kurang dari 10 menit. Tiga hari setelah dirawat di RSPAD Gatot Subroto, Doni merasa pegal-pegal di badannya lenyap. “Tapi ini lumayan, setahun enggak perlu buang duit atau habis waktu buat pijat,” tambah Doni. Ia bahkan berniat membawa sang istri yang punya riwayat diabetes untuk melakukan terapi serupa. Saat kami tanya soal tidak adanya landasan klinis pada terapi ini, Doni cuma tertawa. Ada banyak testimoni serupa yang merasakan keberhasilan pengobatan itu. Tahun lalu, para pembela sang dokter juga tak tinggal diam, ketika surat keputusan Majelis Kehormatan Etik Kedokteran MKEK Ikatan Dokter Indonesia IDI tentang rekomendasi pemecatan dokter Terawan diungkit media. Tagar SaveDokterTerawan muncul. Aburizal Bakrie, politikus Golkar, mengunggah testimoninya dalam blog pribadi, dengan judul Membela Dokter Terawan. Nama-nama besar lainnya yang ikut dalam barisan sama di antaranya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Prabowo Subianto, Dahlan Iskan, hingga sejumlah anggota DPR. Meski tak semua tertawa seperti Doni, nuansa pembelaan itu kental terasa. Salah satunya dari Awang Faroek Ishak, anggota DPR dari Partai Nasdem. Pada 2014 silam, Gubernur Kalimantan Timur 2008-2018 ini berobat ke RSPAD Gatot Subroto untuk menjalani terapi cuci otak Terawan. Seperti Doni, tiga hari kemudian, Awang yang awalnya merasa lemas bisa menghadiri acara Panglima TNI Award di Markas Besar TNI di Cilangkap, pasca-terapi. Namun, kondisi itu tak stabil. “Katanya, motorik saya terganggu, kaki dan tangan kiri saya,” ungkap Awang, saat kami hubungi lewat telepon, Rabu, 27 November kemarin. Ia, yang sebelum menjalani terapi masih bisa jalan, kini harus menggunakan kursi roda. Kemampuan bicara Awang juga tak maksimal lagi. “Sebetulnya terapi dokter Terawan bagus, tapi kondisi tiap orang berbeda-beda. Bapak memang perlu terapi terus, tapi karena kesibukan kadang enggak terapi,” ujar Dayang Donna Faroek, putri Awang. Ia bilang, ayahnya pernah terserang stroke sebelum berobat ke RSPAD. Sehingga terapi cuci otak bukan satu-satunya faktor yang membuat Awang masih menggunakan kursi roda hingga kini. Di tengah tsunami pembelaan, nama Gerard Liew, warga negara Singapura muncul ke permukaan sebagai korban gagal metode cuci otak Terawan, April tahun lalu. Kata Sarah Diana, keponakan Gerard, yang tinggal di Indonesia, sang paman ditawari mengikuti terapi IAHF demi mencegah potensi stroke. Terawan, kata Diana, mengklaim Gerald mengalami penyumbatan di pembuluh darah, sehingga langsung setuju menjalani pengobatan di RSPAD. “Dengan biaya sekitar Rp150 juta,” ujar Sarah. Namun, operasinya tak berhasil. Terawan mengklaim terjadi pergeseran koil—kawat tipis yang berfungsi mencegah pembuluh darah pecah—di otak Gerald. Alhasil, ia harus kembali dioperasi, yang makan waktu tujuh jam. Sayangnya, Gerald malah jadi lumpuh total. Setahun berselang, kata Sarah, pamannya kini lebih baik setelah kembali ke Singapura dan menjalani pengobatan dengan dokter berbeda. Gerald mulai bisa bicara meski tak maksimal. Meski begitu, keluarganya memilih tak memperkarakan Terawan. “Kami sadar diri siapa beliau dan paman saya adalah warga negara asing,” kata Sarah. “Aku masih ingat, setelah operasi, dokter Terawan dia Jenderal. Dia bilang dia enggak mencari uang dan ini hanya untuk charity.” Terawan sendiri membantah memburuknya kondisi Gerald Liew karena metode cuci otaknya. “Justru kami menyelamatkan dia. Itu kan pemasangan koil. Ternyata koilnya lari sendiri. Jadi karena kualitas koilnya sendiri. Itu sebuah accident,” DSA dalam Kemasan Medical Tourism Clinique Suisse—sebuah klinik kecantikan di Sudirman, Jakarta—tak peduli pada reputasi IAHF, meski kasus Gerald lebih dulu ramai diperbincangkan, dan Terawan kena sanksi dari MKEK IDI. November 2018 lalu, saat nama Terawan dan terapi pengobatannya disangsikan, mereka tetap percaya untuk menandatangi MoU kerja sama. Kata General Manager Clinique Suisse Stephanie Elysia, mereka tak mempersoalkan kontroversi metode Terawan. Baginya, perbedaan opini itu terjadi di kalangan dokter, dan itu adalah hal biasa. Ia sendiri lebih mempercayai khasiat terapi tersebut. “Kami sudah pernah beberapa kali berkunjung ke RSPAD, mereka bagus,” kata Stepanie, saat didatangi di kantornya di lantai 6 Wisma Keiai, Jakarta Pusat. “Sudah ada kajiannya. Why not?” tambah Stepanie. Kajian yang ia maksud adalah disertasi dokter Terawan, yang ternyata juga bermasalah. Setelah acara penandatanganan kerja sama pada November kemarin, sejumlah berita mengklaim seribu pasien telah didatangkan dari Vietnam untuk mengikuti terapi IAHF. Saat kami wawancarai, Rabu, 20 November lalu, Terawan mengklaim jumlah itu sudah terpenuhi. “Ke RSPAD, ada pasien. Yang masuk di koran-koran itu semua. Dan itu resmi lho ya,” ungkapnya. Sementara saat dikonfirmasi kepada Clinique Suisse, Stephanie bilang angka itu masih belum tercapai. Ia sendiri tak bisa merincikan detail berapa jumlah orang Vietnam yang sudah didatangkan pihaknya, untuk mencoba terapi IAHF juga Menguliti Disertasi Terawan dari Anjing Hingga Modifikasi DSA Intrik dan Pembelokan Hasil Satgas Metode 'Cuci Otak' Terawan Untuk memastikan klaim tersebut, kami mengajukan permohonan data Laporan Keuangan RSPAD pada PKBLU, karena rumah sakit militer itu sudah jadi BLU sejak 2016. Namun, Ariyanto dari Subdit I PKBLU mengatakan data itu tak bisa ia berikan, karena mereka bukan entitas pemilik laporan tersebut. Kami juga telah menyurati Kedutaan Besar Vietnam untuk memperoleh informasi lebih jelas. Sebab, Duta Besar Vietnam untuk Indonesia Pham Vinh Quang turut hadir dalam penandatanganan kerja sama itu, November tahun lalu. Namun, mereka belum memberikan jawaban, kata Sekretaris Duta Besar Vietnam Nguyen Canh Toan. Saat dihubungi ke pihak Humas RSPAD Iwan, pihaknya mengaku tak tahu menahu terkait MoU tersebut. Namun, Dokter Staf Ahli Kepala RSPAD Taruna Ikrar, membenarkan kabar tersebut. “Vietnam salah satu negara yang ada hubungan kerja sama hospital to hospital untuk DSA dan IAHF melalui Clinique Suisse,” ungkapnya. Pernyataan itu menegaskan bahwa perjanjian tersebut bukanlah ikatan antara negara, alias government to government. Membawa-bawa nama luar negeri sudah jadi dagangan Terawan sejak masih menjabat Kepala RSPAD 2015-2019. Ia selalu mengklaim bahwa metode terapinya bagus buat program wisata medis alias medical tourism pemerintah Indonesia. Dalam wawancara khusus, Rabu, 20 November kemarin, ia juga mengklaim ada pasien dari Malaysia yang kini antre untuk menjalani terapi IAHF di kami konfirmasi ke Duta Besar Malaysia untuk Indonesia Zainal Abidin Bakar, kabar itu juga berbau pepesan kosong. “Saya tidak punya informasi itu,” ujar Zainal, Kamis, 28 November kemarin. Namun, kata Taruna, tak cuma Vietnam dan Malaysia yang tertarik menjadi pasien. Ada Jerman, Turki, Hong Kong, Singapura, dan Filipina yang juga melirik metode Terawan. Ia bahkan mengklaim ada beberapa pemimpin negara yang sudah diterapi, tapi Taruna menolak menyebut identitas mereka. Klaim-klaim ini yang biasanya dipakai RSPAD, Terawan, dan timnya untuk menggaet pasien sekaligus pemasukan. Nama-nama besar dan testimoni mereka dijadikan penggaet agar pasien terus bertambah. Menurut Taruna Ikrar, terapi IAHF dengan metode Terawan bahkan jadi pendapatan terbesar RSPAD setiap menyangkal jika terapinya disebut hanya memikirkan aspek bisnis. Meski dalam brosur yang tersedia di RSPAD, ongkos IAHF mulai dari Rp59,1 juta hingga Rp61,7 juta, Terawan mengaku tak jarang juga memberikan terapi cuma-cuma. “Lho banyak yang gratis. Karena itulah kita di rumah sakit itu tidak boleh business oriented, tapi social oriented,” kata Terawan. “Orang enggak punya juga banyak jadi pasien. Kiai juga ada. Patokannya kan rumah sakit. Jadi tarif itu ditentukan oleh Kementerian Keuangan, karena ini Badan Layanan Umum. Tidak boleh mematok sendiri. Malah kalau menggratiskan boleh.” Klaim Terawan dan Medical Tourism Ada Efek Placebo Pengobatan ala Terawan sendiri kontroversial karena dinilai banyak dokter belum berdasarkan bukti medis. Klaim-klaim sensasi bugar setelah terapi IAHF dinilai dokter spesialis jantung Hamed Oemar semu belaka. Pengobatan alternatif, seperti yang ditawarkan Terawan, tak lepas dari efek placebo—sebuah sensasi kesembuhan palsu yang dirasakan pasien, muncul dari keyakinan dan harapan untuk sembuh. Artinya, seorang pasien bisa jadi merasa bugar karena sugesti pada dirinya sendiri, bukan obat yang atau terapi yang ia jalani. “Untuk pengobatan yang tidak berdasarkan bukti medis, hasil yang dirasakan pasien pasti akibat efek placebo,” kata lulusan Hiroshima University catatan, beberapa orang yang menjalani terapi ke dokter Terawan sebagian menjalaninya untuk kepentingan preventif, seperti yang dilakukan Doni, SBY atau Aburizal Bakrie. Orang seperti mereka bukan orang sakit stroke kronis yang sudah menderita bugar yang dirasakan mereka boleh jadi merupakan efek plasebo. Namun, untuk mendapat kepastian apakah itu benar kesembuhan atau efek plasebo, penelitian Terawan harus dibuka secara pun sebenarnya tidak berani mengklaim kesembuhan ribuan pasien yang ia klaim sudah berobat padanya. "Ndak ada kata sembuh. Saya sebagai dokter belum pernah menyembuhkan pasien," kata Terawan."Ya pasiennya membaik saja. Kalau pasien sembuh saya ndak punya kewenangan. Ini tindakan yang multidisiplin yang harus melibatkan orang lain. Kalau pasien merasa belum membaik pun harus dicek penyebabnya dari mana," katanya ini merupakan hasil kolaborasi Tirto dan Majalah Tempo. Semua hasil wawancara dan data yang didapat reporter Tirto dan Tempo digunakan bersama sebagai bahan tulisan. Reporter Tirto yang terlibat dalam liputan ini Aulia Adam, Aditya Widya Putri, dan Adi Briantika. - Kesehatan Penulis Aulia AdamEditor Mawa Kresna

rumah sakit yang bisa dsa